Info Prodi
Senin, 26 Jan 2026
  • Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Langsa
  • Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Langsa

Psikologi Komunikasi dalam Perspektif Islam: Mengintegrasikan Ilmu Psikologi dengan Ajaran Agama

Terbit : Senin, 1 September 2025

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebagai seorang dosen di bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), saya sering kali merenungkan bagaimana ilmu modern seperti psikologi dapat selaras dengan ajaran Islam. Dalam era digital saat ini, di mana komunikasi menjadi semakin kompleks dan cepat, pemahaman tentang psikologi komunikasi bukan hanya tools ilmiah, tapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada tulisan blog kali ini, saya ingin membahas tentang psikologi komunikasi dalam perspektif Islam. Topik ini relevan bagi mahasiswa KPI, praktisi dakwah, maupun siapa saja yang tertarik dengan integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama.

Apa Itu Psikologi Komunikasi?
Sebelum kita masuk ke perspektif Islam, mari kita pahami dasar-dasarnya. Psikologi komunikasi adalah cabang ilmu yang mempelajari bagaimana proses mental manusia memengaruhi dan dipengaruhi oleh komunikasi. Ini mencakup aspek seperti persepsi, emosi, motivasi, dan perilaku dalam interaksi sosial. Misalnya, bagaimana pesan yang disampaikan dapat memengaruhi sikap penerima, atau mengapa seseorang cenderung percaya pada informasi tertentu.
Dalam konteks modern, psikologi komunikasi sering digunakan dalam media massa, public speaking, dan bahkan dakwah digital. Namun, tanpa fondasi nilai, ilmu ini bisa disalahgunakan, seperti dalam propaganda atau manipulasi opini publik.

Integrasi Psikologi Komunikasi dengan Islam
Islam bukan hanya agama ritual, tapi juga panduan hidup yang holistik, termasuk dalam komunikasi. Al-Quran dan Hadits memberikan banyak petunjuk tentang bagaimana berkomunikasi secara efektif dan etis, yang selaras dengan prinsip-prinsip psikologi.

Prinsip Kejujuran dan Kepercayaan (Trust Building)
Dalam psikologi komunikasi, kepercayaan adalah fondasi utama. Tanpa kepercayaan, pesan tidak akan diterima dengan baik. Islam mengajarkan hal yang sama melalui firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 42: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahuinya.”
Ini mengingatkan kita bahwa komunikasi harus jujur untuk membangun kepercayaan. Sebagai dosen KPI, saya sering menekankan kepada mahasiswa bahwa dakwah yang efektif dimulai dari kejujuran, bukan manipulasi emosional.

Pengendalian Emosi dalam Komunikasi
Psikologi mengajarkan tentang emotional intelligence (kecerdasan emosional), di mana seseorang harus mengelola emosi diri dan memahami emosi orang lain. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga ia memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Abu Dawud).
Dalam konteks komunikasi, ini berarti menghindari kata-kata kasar atau emosional yang bisa merusak hubungan. Bayangkan jika seorang dai menggunakan teknik psikologi seperti persuasion tanpa kontrol emosi—bisa jadi malah menimbulkan konflik daripada dakwah yang menyentuh hati.

Persepsi dan Pemahaman Budaya
Psikologi komunikasi menekankan pentingnya memahami persepsi penerima pesan, termasuk latar belakang budaya. Islam mendorong komunikasi yang inklusif, seperti dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”
Ini adalah dasar untuk komunikasi lintas budaya yang efektif. Di kelas KPI, saya sering menggunakan contoh bagaimana Rasulullah SAW berkomunikasi dengan berbagai suku di Madinah, dengan memahami psikologi mereka untuk menyampaikan ajaran Islam secara persuasif.

Dampak Media dan Psikologi Massa
Di era media sosial, psikologi komunikasi membahas fenomena seperti echo chamber (ruang gema) di mana orang hanya mendengar opini yang sama. Islam mengingatkan kita untuk mencari kebenaran, bukan sekadar mengikuti mayoritas. Firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 116: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
Sebagai praktisi KPI, kita harus menggunakan media untuk dakwah yang membangun, bukan memecah belah. Psikologi membantu kita memahami bagaimana pesan visual atau naratif bisa memengaruhi pikiran massa, dan Islam memberikan etika untuk memastikan itu digunakan untuk kebaikan.

Aplikasi dalam Dakwah dan Pendidikan
Bagi mahasiswa KPI, memahami psikologi komunikasi Islam bukan hanya teori, tapi praktik. Misalnya, dalam penyiaran Islam, kita bisa menggunakan teknik storytelling psikologis yang terinspirasi dari kisah-kisah Al-Quran untuk menyampaikan pesan moral. Ini membuat dakwah lebih relatable dan efektif, terutama bagi generasi muda yang terpapar informasi digital.
Saya mendorong para pembaca untuk menerapkan ini dalam kehidupan sehari-hari: mulai dari komunikasi keluarga hingga interaksi sosial. Ingatlah, komunikasi yang baik adalah ibadah jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan
Psikologi komunikasi dalam perspektif Islam adalah perpaduan antara ilmu manusiawi dan wahyu ilahi. Ia mengajarkan kita untuk berkomunikasi dengan hati, akal, dan iman. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Jika ada pertanyaan atau diskusi, silakan komentar di bawah atau hubungi saya melalui email.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar